Rabu, 02 Juli 2008
Kasus Bulyan Royan Libatkan Anggota DPR Lain Dan Pejabat Dephub
Hal itu diungkapkan oleh Kamaruddin Simanjuntak, penasihat hukum Dedi Suwarsono, Dirut PT Bina Mina Karya Perkasa, pengusaha yang diduga memberikan uang kepada kepada anggota DPR Bulyan Royan di gedung KPK, Selasa malam.
Bulyan ditangkap oleh KPK karena diduga menerima 66 ribu dolar AS dan 5.500 Euro dari Dedi. Pemberian itu diduga terkait dengan pengadaan 20 unit kapal patroli oleh Direktorat Jenderal Perhubungan Laut, Dephub.
Namun, menurut Kamaruddin, uang itu hanyalah sebagian dari nilai uang "terima kasih" atau "fee" dari pemenang tender. Menurut Kamarudin, kliennya hanya salah satu dari lima pemenang tender untuk pengadaan 20 unit kapal.
Kamaruddin menegaskan, dalam kerja sama tender, masing-masing pemenang tender diwajibkan memberikan "fee" sebesar tujuh persen atau delapan persen dari nilai proyek kepada DPR dan pejabat Dephub. Nilai tujuh persen itu adalah Rp1,68 miliar.
Selasa, 01 Juli 2008
Bulyan Royan Mengakui Terima Uang
"Kami tak mendesak Bulyan sampai ke pertanyaan itu (siapa yang memberi uang)," kata Usman sesaat setelah menjenguk Bulyan di tahanan Polda Metro Jaya, Selasa (01/06).
Usman menambahkan, sebelum ditangkap KPK, Bulyan menukarkan uang senilai Rp 700 juta di sebuah money changer di Plaza Senayan ke dalam pecahan US$ 66 ribu dan 5500 Euro. Uang itu diterima Bulyan dari seseorang. Ketika ditangkap, Bulyan tengah membawa uang-uang itu dalam kantong celananya.
Usman menambahkan, partainya hingga kini belum memutuskan tindakan apa yang diterapkan pada Bulyan. Namun ia menyatakan bahwa Jumat pekan ini akan diagendakan pertemuan yang membahas hal itu. "Yang jelas ada sanksi yang kami terapkan nanti," kata dia.
Rabu, 04 Juni 2008
Max Moein Bungkam soal Aliran Dana BI
Max meninggalkan gedung KPK sekira pukul 19.00 WIB, setelah menjalani pemeriksaan yang dijadwalkan dimulai pukul 10.00 WIB. Ketika keluar dari gedung berlantai delapan itu, Max tidak bersedia dimintai keterangan oleh sejumlah wartawan.
Bahkan, dia sengaja memarkir mobilnya di belakang gedung KPK sehingga para wartawan yang kebanyakan berada di depan gedung tidak bisa mengantisipasi apabila pemeriksaan terhadap Max sudah selesai.
"Saya sebagai saksi," katanya singkat sambil terus bergegas menuju mobil yang akan membawanya meninggalkan gedung KPK.
Sebelum aktif di Komisi XI, Max juga pernah berkarir di Komisi IX DPR. Sejumlah anggota dan mantan anggota Komisi XI telah diperiksa oleh KPK terkait kasus tersebut.
Sabtu, 31 Mei 2008
Lagi, Foto Mesra Max Moein Beredar di Internet
Dalam jumpa pers beberapa hari silam, melalui pengacaranya, Desi membantah bahwa wanita dalam foto itu adalah dirinya. Adapun seorang pakar gambar digital juga curiga ada rekayasa teknologi dalam foto tersebut. Untuk meneliti keasliannya harus merujuk pada foto aslinya, bukan hanya foto di internet.
Terlepas dari keaslian foto-foto mesra Max Moein, anggota Dewan itu sekarang menghadapi tuduhan pelecehan seksual dari Desi Firdiyanti. Menurut kuasa hukum Desi, kasus ini sudah dilaporkan ke Badan Kehormatan DPR setahun lalu. Kemarin, BK DPR berkonsultasi dengan pimpinan DPR untuk menyelidiki kasus ini. Sayangnya, fokusnya lebih pada dugaan pelanggaran etika yang dilakukan Max Moein terkait tersebarnya foto itu. DPR pun akan memanggil Max, pekan depan [baca: BK DPR Selidiki Kasus Max Moein].
Jumat, 23 Mei 2008
Al Amin Terima Uang dari Azirwan di Lorong Toilet
Demikian kesaksian yang disampaikan penyelidik dari KPK, Amir Arif, dalam sidang praperadilan Al Amin terhadap KPK di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Selatan, Jalan Ampera Raya, Jakarta, Kamis (22/5).
Lokasi kejadian ada di Hotel Ritz Carlton Mega Kuningan, Jakarta, tanggal 8 April malam hingga 9 April dinihari. “Saya tetap mengamati posisi Al Amin. Sampai pada pukul 00.40 WIB, saya melihat Al Amin masuk ke lorong menuju toilet bersama seorang wanita. Wanita itu keluar dari toilet dan Al Amin menunggu di lorong,” kata Amir.
Tidak lama, lanjut dia, Azirwan menyusul ke lorong toilet yang panjangnya sekitar 7 meter itu. “Mereka bertemu, merapat ke dinding lalu berbicara. Tidak bisa saya dengar jelas pembicaraannya. Jarak saya sekitar 2-3 meter,” ujarnya.
Dian, Wanita yang Berpose Syur Bersama Anggota DPR
Dari penelusuran di Gedung DPR, wanita yang berfoto bersama Max Moein itu bernama Dian. Namun, wanita yang dimaksud sudah tidak bekerja lagi sebagai staf di DPR. "Dia sekarang melanjutkan kuliah di Perancis dan sudah beberapa tahun lalu tidak lagi bekerja sebagai salah seorang staf anggota DPR. Ngakunya sih kuliah, saya tidak tahu apa benar kuliah atau nggak. Saya cuma sekadar kenal saja dan tidak terlalu dekat," katanya.
Sumber lain di DPR menuturkan, wanita yang berfoto bersama Max Moein itu pernah menjadi staf salah seorang anggota F-KB DPR, Nursjahbani Katjasungkana, sebelum melanjutkan studi ke Perancis. Sementara Nursjahbani Katjasungkana ketika hendak dikonfirmasi melalui telepon seluluernya tak bisa dihubungi.
Sedangkan Sekretaris F-PDI Perjuangan Ganjar Pranowo saat dikonfimasi menjelaskan, fraksi akan mengklarifikasi langsung Max Moein terkait beredarnya foto syur itu. Partai, tegas Ganjar, akan memberikan sanksi tegas kepada Max Moein bila yang bersangkutan memenuhi unsur tindakan yang tidak bermoral. [Lebih lengkap ada di Kompas Dotcom]
Rabu, 21 Mei 2008
Selingkuhi Istri Orang, Anggota DPRD Kampar Dipolisikan
Terbongkarnya perselingkuhan antara Alimin Zaidan (38), anggota DPRD Kampar, dengan Lensi Lestari (24) akibat SMS. Wanita yang baru melahirkan dua bulan yang lalu itu merupakan istri dari Suharto, pegawai honor di Kejari Bangkinang, ibukota Kampar, terpaut 60 km arah barat dari Pekanbaru.
Informasi yang dihimpun detikcom, Rabu (21/5/2008), diduga perselingkuhan antara Alimin dan Lensi sudah lama terjalin. Namun baru akhir pekan lalu jalinan asmara terlarang ini terbongkar setelah sang suami Lensi membaca pesan SMS di HP istrinya. Isi SMS itu, Alimin menjanjikan bertemu di salah satu tempat.
Setelah membaca SMS itu, Suharto lantas membalas tanpa sepengetahuan istrinya, bersedia menemui anggota dewan itu di tempat yang telah dijanjikan. Mendapat balasan seperti itu, Alimin pun bergegas menuju lokasi asmara yang dijanjikan. Suharto pun dengan rasa marah lebih dulu menunggu selingkuhan istrinya itu.
